Select Menu
Select Menu

Favourite

Kumpulan Esai

Kolom Opini

Culture

Transportasi Tradisional

Rumah Adat

Bali

Pantai

Seni Budaya

Kuliner

A. PENDAHULUAN

Pada dasarnya kawasan Asia Tengah tidaklah terkenal dan semashyur kawasan Timur Tengah. Banyak pihak tentu lebih mengenal kawasan Timur Tengah yang notabene merupakan kawasan yang kaya dengan sumber daya minyak ketimbang kawasan lainnya yaitu Asia Tengah.
Kawasan Asia Tengah secara umum memiliki luas wilayah sebesar 9.029.000 kilometer persegi[1]. Luas wilayah itu adalah 21 % dari total luas Benua Asia secara keseluruhan. Di kawasan Asia Tengah terletak lima negara yaitu : Kazakhztan, Kirgiztan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan. Kelima negara tersebut merupakan bagian dari bekas negara Uni Soviet[2]. Selain itu, di kawasan ini juga terletak Laut Kaspia.
Satu hal yang menarik dewasa ini adalah kawasan ini kemudian menjadi rebutan dari negara-negara besar seperti Rusia, Cina, dan juga Amerika Serikat. ketiga negara ini berlomba-lomba untuk mendapatkan pengaruh besar di kawasan tersebut. Lantas timbul satu pertanyaan kira-kira apa hal yang menjadi daya tarik kawasan Asia Tengah, sehingga membuat kawasan ini menjadi rebutan bagi negara-negara besar di dunia? 
Faktor yang pertama adalah faktor Sumber daya alam.
    Menurut data yang dirilis oleh Pemerintah Amerika Serikat kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam terutama minyak dan gas. Bahkan kekayaan alam yang dimilikinya disinyalir lebih besar jika dibandingkan dengan apa yang ada di kawasan Timur Tengah. Sebagai contoh : Kazakhstan pada tahun 2002 mempunyai produksi minyak mencapai 900.000 barel per hari. Produksinya ini akan meningkat menjadi 5 juta barel per hari pada tahun 2015 sehingga melebihi produksi Iran atau Kuwait. 

Sementara Turkmenistan merupakan salah satu negara yang mempunyai sumber gas alam terbesar di dunia, yang mencapai 101 trilyun kaki kubik dan produksi minyaknya mencapai 160.000 barel per hari. Di Tajikistan dan Kyrgistan terdapat sumber alam yang dapat dijadikan pembangkit listrik tenaga air yang cukup potensial untuk dapat memenuhi kebutuhan energi listrik di Asia Tengah, Afghanistan dan Asia Selatan[3]. 

Adapun Laut Kaspia yang secara geografis  berbatasan dengan Rusia (Dagestan, Kalmykia,Oblast Astrakhan), Azerbaijan, Iran (provinsi Guilan, Mazandaran dan Golestan),Turkmenistan, dan Kazakhstan, dengan padang rumput yang luas Asia Tengah di utara dan timur[4],diperkirakan menyimpan kurang lebih kandungan minyak sebesar 150 milyar barel. 

Kandungan minyak ini kemudian dinilai sangat potensial dan bahkan menguntungkan bila dibandingkan dengan kandungan minyak yang ada di AS yang hanya sebesar 22 milyar barel dan Laut Artik sebesar 17 milyar barel. Dengan kandungan minyak sebesar itu, Laut Kaspia dapat menjadi pemasok minyak 15 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kawasan Timur Tengah. Secara umum, cadangan minyak di seluruh kawasan Asia Tengah mencapai 23 milyar ton[5].
Faktor kedua adalah karena letak kawasan Asia Tengah yang sangat strategis baik bagi Rusia, Cina, maupun bagi Amerika Serikat. Bagi Cina kawasan Asia Tengah merupakan jalur perdagangan yang menghubungkannya dengan Rusia. Seperti yang telah diketahui Rusia merupakan mitra strategis bagi Cina. Apalagi sejak Cina mendapat embargo militer dari Amerika Serikat akibat terjadinya peristiwa Tiananmen tahun 1989. Tercatat Rusia merupakan pengekspor utama peralatan persenjataan bagi Cina. 
 
Total perdagangan di bidang militer ini pasca dibentuknya Shanghai Cooperation Organization (SCO) di tahun 2001 saja mencapai US$ 5-6 Milyar, dan ini terus mengalami peningkatan,mengingat dengan kebutuhan Cina sendiri untuk melakukan modernisasi persenjataan yang dimilikinya. Di sisi lain bagi Amerika Serikat, kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang tidak kalah strategisnya. Selain faktor Sumber daya alam, kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat mendukung bagi terciptanya kestabilan keamanan  wilayah Afganistan dan mencegah munculnya kembali kegiatan- kegiatan terorisme[6]. 

Terjaminnya keamanan di Asia Tengah dipercaya akan berbanding lurus dengan terjaminnya keamanan di wilayah Afganistan. Selain itu, bagi Amerika Serikat dikuasainya kawasan Asia Tengah merupakan potensi yang tepat untuk menghambat aliansi yang tengah dibuat oleh Rusia dan Cina. Sementara bagi Rusia, kawasan Asia Tengah bukan hanya menjadi kawasan yang sangat strategis tetapi juga menjadi kawasan penentu bagi penciptaan keberhasilan pembangunan ekonomi dalam negerinya.  Secara geografis, Rusia merupakan negara yang berbatasan langsung dengan kawasan Asia Tengah. 

Kepentingan Rusia di Asia Tengah
Konflik politik

Sebagai negara dengan luas wilayah terbesar di dunia ( 17.075.400 kilometer persegi)[7], Rusia mempunyai banyak kepentingan yang akan diwujudkannya di kawasan tersebut. Apalagi secara historis, Rusia dan negara-negara di kawasan Asia Tengah pernah berada dalam satu ikatan negara besar yaitu Uni Soviet. Hal-hal inilah yang kemudian membuat kaitan antara kepentingan Rusia di Asia Tengah dan potensi nilai tawar Asia Tengah sendiri menjadi menarik untuk dibahas secara lebih mendalam. Tentu saja dengan tidak mengabaikan kepentingan-kepentingan negara besar lainnya seperti Cina Dan Amerika Serikat.

B.     KEPENTINGAN RUSIA DI KAWASAN ASIA TENGAH

Peralihan kepemimpinan di Rusia dari Presiden Boris Yeltsin ke Presiden Vladimir Vladimrovich Putin (7 Mei tahun 2000) kemudian membuat orientasi kebijakan dalam maupun luar negeri Rusia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Krisis ekonomi yang melanda Rusia pada kurun waktu 1998 yang membuat Rusia  akhirnya terjebak dalam posisi tidak dapat membayar hutang sebesar 360 juta dollar US ke London Club dan 70 Milyar Dollar US yang merupakan hutang warisan dari Uni Soviet, pada dasarnya merupakan akibat dari pelaksanaan orientasi politik luar negeri yang tidak konsisten[8] dan penafsiran yang keliru dari konsep pemikiran politik baru (New Political Thinking (NPT) ) yang sempat digagas oleh Michail Gorbachev lewat Glanost dan Perestroika.

Vladimir Putin yang melihat situasi ini secara jeli kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk melakukan transformasi kebijakan politik dalam dan luar negeri Rusia yang bersifat strategis. Konsep politik baru yang dipandang sebagai restorasi patriotisme dan nilai-nilai tradisi dalam visi dan pragmatisme dalam aksi[9] akhirnya menjadi alat penting bagi Presiden Vladimir Putin untuk mewujudkan misinya guna mengembalikan kejayaan Rusia yang kian terpuruk sejak pecahnya Uni soviet tahun 1991. Satu hal yang kemudian menjadi perhatian adalah pola penerapan kebijakan politik Presiden Vladimir Putin.

 Di era Putin, kebijakan politik Rusia terutama kebijakan politik luar negeri tidak lagi bersifat pro Barat dan juga tidak sepenuhnya bersifat mandiri (independen). Bagi Presiden Putin, Pragmatisme politik adalah cara yang tepat guna membantu Rusia untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Dalam pidatonya Putin mengatakan :”The Foundation of this policy is pragmatism,economic effectiveness,and priority of national task”[10]. Pernyataan ini sejatinya mengandung makna bahwa kebijakan politik Rusia baik itu yang bersifat dalam negeri maupun luar negeri pada dasarnya disesuaikan dengan kepentingan nasional apa yang ingin segera dicapai. Keterbukaan ekonomi tidak serta merta harus diikuti oleh keterbukaan politik begitupun sebaliknya. Alur pemikiran ini pada dasarnya secara kontekstual berbenturan dengan tradisi konsep ideal teori neoliberal, akan tetapi harus diakui konsep pemikiran inilah yang akhirnya membuat perekonomian Rusia yang sebelumnya anjlok hingga 40 % di tahun 1998[11] menjadi kembali mengalami peningkatan. 

Peningkatan yang dimaksud dapat dilihat dari pencapaian Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia yang  naik hingga mencapai 7 % di tahun 2007[12]. Bahkan, Rusia menempati urutan ketiga dalam daftar negara yang memiliki cadangan devisa terbesar dengan sekitar 400 miliar dollar AS (setelah Jepang dan RRC), di samping itu Rusia juga memiliki dan stabilisasi sebesar lebih dari 80 miliar dollar AS[13].
Berbicara mengenai kepentingan politik luar negeri Rusia yang pragmatis tentu sangat erat kaitannya dengan keberadaan kawasan Asia Tengah. Sebagai negara yang secara geografis berbatasan langsung dengan kawasan tersebut ditambah dengan faktor kedekatan historis ( pernah tergabung menjadi satu dalam negara Uni Soviet), Rusia pada akhirnya menjadi negara yang paling berkepentingan di kawasan Asia Tengah tersebut. Lewat pendekatan Near Abroad (Blizhnee Zarubezh’e), yang mana tidak hanya diperuntukkan bagi negara-negara bekas Uni Soviet yang tergabung dalam CIS (Commonwealth of Independent States) dan kerangka SCO(Shanghai Cooperation Organization ) Rusia kemudian coba menjalin kerjasama yang baik dengan negara-negara di kawasan Asia Tengah. 
Adapun kepentingan yang ingin dicapai oleh Rusia di kawasan Asia Tengah yaitu :

a. Kelancaran dalam Suplai Minyak dan komoditas perdagangan lainnya (peralatan militer) dari Rusia ke negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah. Misalnya Cina, Iran, dan India. Selama ini produk minyak Rusia memasuki pasaran internasional melalui tiga jalur yaitu : Eropa Barat melalui Laut Baltik dan Laut Hitam untuk memasuki pasar Eropa, jalur laut utara untuk sebagian Eropa dan Amerika Utara, dan jalur Timur Jauh menuju pasar Asia Pasifik. Stabilitas keamanan di kawasan Asia Tengah tentu akan membawa pengaruh pada kelancaran suplai minyak dan komoditas perdagangan Rusia. Terutama mengenai lalu lintas perdagangan antara Rusia dan Cina. Mengingat kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang menghubungkan antara Rusia dan Cina  Jika stabilitas keamanan Asia Tengah terganggu maka dapat dipastikan Rusia akan menelan kerugian hingga US $ 40 Millyar. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka Rusia bersama Cina dan keenam negara di kawasan Asia Tengah melakukan kerjasama secara formal dalam wadah SCO (Shanghai Cooperation Organization). Selain itu, Rusia juga melakukan kerjasama dengan Kazakhtan dalam upaya eksplorasi Laut Kaspia. Kerjasama di bidang eksplorasi ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari kerjasama sebelumnya di bidang penjagaan perbatasan sejauh 7.500 km (terpanjang di dunia).

b. Menjaga dan melindungi eksistensi etnis Rusia di kawasan Asia Tengah. Runtuhnya Uni Soviet, kurang lebih berdampak pula pada persebaran etnis,secara khusus etnis Rusia. Rusia sebagai negara pewaris Uni soviet tentu memiliki kepentingan untuk melindungi keberadaan etnis Rusia yang tersebar di negara-negara bekas jajahan Uni Soviet. Dan Asia Tengah persebaran etnis Rusia adalah yang terbesar. Di Kazakhstan presentase persebaran etnis Rusia mencapai 37 %, di Kyrgystan 21,5%,Turkmenistan 9,8%,Tajikistan 3,5%, dan di Uzbekistan 8,3%[14]. Jumlah etnis Rusia yang sangat besar yang tersebar di negara-negara bekas jajahan Uni Soviet ternyata berbanding lurus dengan kuatnya pengaruh mereka bagi pelaksanaan pemerintahan di negara-negara tersebut. Kuatnya pengaruh inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang oleh Pemerintah Rusia sebagai cara untuk mengontrol dan memberi pengaruh bagi mekanisme pengambilan kebijakan di negara-negara tersebut.
c. Kepentingan akan penguasaan Sumber Daya Alam. Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam. Cadangan minyak di kawasan ini diprediksi berjumlah 23 Milyar ton[15]. Dengan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah itu tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi Rusia. Penguasaan yang tepat terhadap kawasan Asia tengah secara sistematis akan menopang perkembangan Rusia sebagai negara pengekspor minyak dan gas terbesar di dunia. Akan tetapi, fokus perhatian Rusia terhadap potensi sumber daya alam di kawasan Asia Tengah tidaklah sedetail Amerika Serikat. 

Faktor kekayaan alam dalam negerinya yang notabene mampu menunjang perannya sebagai supplier minyak dan gas bagi kawasan Eropa dan Asia adalah penyebab utama yang membuat Rusia tidak terlihat begitu antusias mengenai perebutan hak atas sumber daya alam di kawasan Asia Tengah. Alasan ini diperkuat dengan adanya data bahwasanya Rusia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan gas terbesar di dunia yaitu sebesar 1.680 TCF (tahun 2001) atau dua kali lebih besar dibandingkan cadangan gas Iran, terbesar ke dua untuk cadangan batubara setelah AS dengan jumlah cadangan sebesar 173 miliar ton, dan cadangan terbukti minyak sebesar 60 miliar barel (terbesar ke delapan di dunia)[16]. 

      Cadangan minyak Rusia sebagian besar terdapat di Siberia bagian Barat diantara pegunungan Ural dan dataran Siberia Tengah yang dikenal dengan Russian Core yang menjadikan Uni Soviet saat itu sebagai penghasil minyak utama dengan produksi mencapai 12,5 juta bph yang sebagian besar berasal dari wilayah Rusia. Tahun 2006 volume ekspor gas alam Rusia mencapai 141 miliar meter kubik per hari yang membuat pendapatan negara dari sektor gas alam sekitar 674 miliar dollar AS, jauh lebih besar dari pendapatan dari sektor minyak yang hanya sekitar 142 miliar dollar AS dengan volume ekspor 7 juta barrel per hari[17].


C. ASIA TENGAH : POTENSI KONFLIK PASCA TIMUR TENGAH
                    Pasca gelombang revolusi besar-besaran (Februari 2011) di kawasan Timur Tengah yang berhasil menggulingkan beberapa rezim pemerintahan, mulai dari rezim Presiden Ben Ali di Tunisia, Husni Mubarak di Mesir, Moammar Khadafi di Libya, Ali Abdullah Saleh di Yaman, hingga Presiden Bashar Al Ashad di Suriah ( yang masih berlangsung sampai sekarang), akhirnya menempatkan kawasan Timur Tengah pada ketidakstabilan politik. Transformasi kekuasaan yang diharapkan dapat membawa perbaikan pada sistem politik dalam negeri ternyata malah melahirkan konflik baru yang ironisnya justru melibatkan kelompok-kelompok yang sebelumnya mempunyai misi yang satu dan telah sama- sama berjuang mencetuskan gerakan revolusi. 
            Situasi dan kondisi seperti ini tentu tidak berdampak positif bagi eksistensi Timur Tengah di mata dunia internasional. Padahal secara ekonomi Timur Tengah merupakan kawasan yang memegang peranan penting. Sebagai kawasan penghasil minyak dunia, Timur Tengah merupakan supplier bagi banyak negara dan kawasan di dunia. Adapun kawasan Eropa Barat tergantung 3/5% atau sebanyak 20% dari kawasan Timur Tengah, Sementara Amerika Serikat tergantung sebesar 1/7 bagian dan Jepang sebanyak 2/3 bagian dari seluruh kebutuhan minyaknya[18]. 
      
      Ketidakstabilan politik yang ada di kawasan Timur Tengah,otomatis akan membuat negara-negara yang selama ini bergantung terhadap suplai minyak dari Timur Tengah berupaya untuk mencari alternatif baru guna menjamin ketersediaan minyak dalam negerinya. Dan kawasan yang dimaksud kemudian merujuk kepada Asia Tengah. 
Kekayaan sumber daya alam kawasan Asia Tengah sejatinya telah dilihat oleh Pemerintah Amerika Serikat sejak akhir dekade 1990-an. Menurut Pemerintah AS kawasan Asia Tengah khususnya Laut Kaspia diperkirakan mempunyai kandungan gas alam sebesar 236-337 trilyun kaki kubik (cubic feet). Kandungan gas alam di Laut Kaspia ini menjadi daya daya tarik yang potensial mengingat kandungan gas alam yang terdapat di sana lebih besar jika dibandingkan dengan kandungan gas alam yang dimiliki AS yang berjumlah 300 trilyun cubic feet[19]. 
Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh kawasan Asia Tengah akhirnya membuat banyak negara terlibat dalam persaingan. Pada dasarnya ada tiga negara besar yang kemudian terlibat dalam perebutan pengaruh di kawasan Asia Tengah ini. Tiga negara yang dimaksud adalah Rusia, Cina, dan Amerika Serikat. Kedekatan hubungan antara Rusia dan Cina seperti yang tercermin dalam Kemitraan strategis kedua negara yang termaktub dalam Shanghai Cooperation Organization (SCO) tentu menjadi permasalahan yang serius bagi Amerika Serikat. Perjanjian kerjasama antara Rusia dan Cina yang ditandatangani pada 18 Juli tahun 2001 itupun secara halus menyebut Amerika Serikat sebagai penghalang terwujudnya stabilitas di kawasan Asia Tengah. Dalam point pertama pokok kerjasama disebutkan : The 2001 Russia- China treaty covers five important areas of cooperation : 1) Joint actions to offset a perceived U.S. Hegemoinsm[20]. 
     Keterlibatan Amerika serikat dalam persaingan dalam upaya perebutan pengaruh di Asia Tengah yang ditandai dengan upaya ekspansi NATO ke kawasan tersebut hingga ke kawasan Eropa Timur ditambah dengan dibangunnya pangkalan militer Amerika Serikat di Uzbekistan dan Kazhakstan tentu saja akan memanaskan situasi di kawasan tersebut. Tentu saja mengingat kehadiran Amerika Serikat di kawasan Asia Tengah akan bersinggungan langsung dengan kepentingan yang ingin dicapai oleh Rusia dan Cina. Jika kemudian Amerika Serikat berani melibatkan diri seperti yang pernah dilakukannya dalam revolusi di Timur Tengah berarti Amerika Serikat akan berhadapan dengan Rusia yang dibantu oleh Cina. 

Konflik yang bersifat frontal seperti yang terjadi di masa perang Dunia I dan II memang sangat kecil kemungkinannya untuk kembali terjadi, akan tetapi konflik secara tidak langsung yaitu dengan menjadikan negara-negara yang ada di kawasan Asia Tengah sebagai aktor yang terlibat langsung dalam konflik itu adalah kemungkinan yang besar yang dapat terjadi. Bukanlah sesuatu yang mustahil jika kemudian kawasan Asia Tengah akan bernasib sama dengan Timur Tengah, atau bahkan lebih parah dari itu, mengingat kompleksitas dan keterlibatan pihak-pihak dalam perebutan pengaruh di kawasan tersebut.


D. KESIMPULAN
        Kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat akan sumber daya alam. Selain itu letaknya yang sangat strategis yang menjadi salah satu jalur perdagangan antara Eropa dan Asia akhirnya membuat kawasan Asia Tengah ini menjadi perhatian dan bahkan menjadi rebutan bagi beberapa negara besar di dunia. Negara-negara besar yang terlibat dalam perebutan wilayah itu yaitu Rusia, Cina ,dan Amerika Serikat. Dari ketiga negara tersebut Rusialah yang kemudian mempunyai kepentingan yang paling besar. Adapun kepentingan Rusia adalah: menjaga kelancaran dalam Suplai Minyak dan komoditas perdagangan lainnya (peralatan militer) dari Rusia ke negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah, Menjaga dan melindungi eksistensi etnis Rusia di kawasan Asia Tengah, dan Kepentingan akan penguasaan Sumber Daya Alam. 
        Akan tetapi, pencapaian kepentingan yang ingin dicapai oleh Rusia menghadapi persoalan mengingat Amerika Serikat juga mempunyai kepentingan yang besar di kawasan tersebut. Terutama soal penguasaan akan sumber daya alam yang ada. Benturan kepentingan antara Rusia dan Amerika Serikat inilah yang kemudian dapat memicu timbulnya konflik di kawasan Asia Tengah. Konflik yang ada tersebut nantinya bisa sama seperti yang terjadi di Timur Tengah atau bahkan bisa lebih buruk dari yang pernah terjadi di Timur Tengah, mengingat kompleksitas dan kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
   Akhirnya, semoga kepentingan yang ingin dicapai oleh masing-masing negara di kawasan Asia Tengah tidak lantas membuat prinsip-prinsip perdamaian yang bersifat universal menjadi ditinggalkan dan membuat salah satu pihak menjadi dirugikan. СПАСИБО И УДАЧИ.


           




[1] “Asia Tengah, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Asiatengah, diakses pada 22 November 2011.
[2] “Rusia”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia, diakses pada 22 November 2011.
[3] Richard Sokolsky dan Tanya Charlek-Paley, NATO Caspian Security: A Mission to
Far?, Santa Monica: rani, 1999, hal. 69-70 (diakses pada 12 Maret 2008); dari
www.aksesdeplu.com.
[4] “Laut Kaspia”, dalam  http://id.wikipedia.org/wiki/LautKaspia, diakses pada 22 November 2011.
[5] “The Security Situation in Central Asia”. International Strategic Studies. No. 1. 2001
[6] Charles Fairbanks,”Bases Of Debate : America in Central Asia”, The National Interest, No.68,2002, hal.45.
[7] “Rusia”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia, diakses pada 22 November 2011.
[8] Periode 1993-1995 kebijakan politik luar negeri Rusia cenderung mengakomodasi kepentingan negara-negara Barat sedangkan periode tahun 1995-1998 kebijakan luar negeri yang diterapkan cenderung mengarah pada independensi dan nasionalisme Rusia.
[9] “Annual Address to The Federal Assembly of The Russian Federation, Moscow,Kremlin, July 8,2000” http://www.kremlin.ru, diakses pada 24 Oktober 2006.
[10] Lihat pidato pelantikan Presiden Vladimir Putin di depan Dewan Parlemen tanggal 7 Mei 2000
[11] Simon Saragih, Bangkitnya Rusia; Peran Putin dan Eks KGB (Jakarta: Kompas, 2008) hal.3
[12] Ibid, hal 3.
[13] “Siapa Pengganti Putin”, dalam  http://kompas.com/kompascetak/0702/02/In/3285159.htm, diakses pada 20 Maret 2010
[14] “The Europe World Yearbook”, Volume I dan II,  1994-1995.
[15] “The Security Situation in Central Asia”. International Strategic Studies. No. 1. 2001
[16] “Perkembangan Industri Migas di Rusia”, dalam
http://www.esdm.go.id/beritagas.php?news_id=340, diakses pada 20 Februari 2008
[17] “Putin Sukses secara Ekonomi” ,dalam
[18] Lina Alexandra dan Bantarto Bandoro,” Ketidakstabilan Permanen di Timur Tengah”,
Analisis CSIS Vol. 36, No. 1 Maret 2007, hal 63.
[19] Nurani Chandawati, “ Krisis Energi dan Keamanan Pasokan Energi”, Analisis CSIS Vol.36, No. 1 Maret 2007, hal 82.
[20] Dr. Ariel Cohen, “The Russia-China Friendship and Cooperation Treaty : A Strategic Shift In Eurasia?”, dalam http://www.heritage.org/research/RussiaandEurasia/BG1459.cfm, hal. 1, diakses pada 20 November 2011.
        Siapa yang tak mengenal Yogyakarta? Hampir semua kita tentu mengenalnya. Tidak hanya di Indonesia bahkan di mancanegara nama Yogyakarta telah begitu terkenal dan selalu menjadi daya tarik tersendiri. Ada banyak predikat yang disandang oleh kota ini. Mulai dari kota wisata, kota budaya, kota pelajar hingga Indonesia mini. 

Banyaknya predikat yang disandang oleh kota ini akhirnya membuat Yogyakarta menjadi destinasi favorit bagi banyak orang untuk melakukan aktivitasnya. Ada yang berwisata, ada yang bekerja atau belajar, bahkan ada yang memutuskan untuk berdomisili di kota ini. Jika dilihat presentasi selama kurun waktu lima tahun terakhir (tahun 2008-2012) jumlah penduduk Yogyakarta mengalami peningkatan yang signifikan. Jika tahun 2008 jumlah penduduk DIY mencapai 3.399.305 jiwa maka pada tahun 2012 telah mencapai 3.458.029 jiwa. 

 Peningkatan jumlah kedatangan orang di Yogyakarta di satu sisi memang menguntungkan. Salah satunya bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Akan tetapi di sisi lain terdapat hal yang mengkhawatirkan. Hal yang mengkhwatirkan tersebut adalah kemacetan lalu lintas.

Kemacetan : Potret Yogya Masa Kini 
   Yogyakarta adalah kota yang istimewa. Akan tetapi keistimewaan kota penuh keramahan ini mulai sedikit terganggu dengan adanya kemacetan di berbagai sudut jalannya. Lantas pertanyaan yang muncul adalah mengapa Yogya sekarang sering dilanda kemacetan? 

Kemacetan di Jogja
Salah satu sudut Malioboro
Untuk menemukan jawabannya rasanya kita tidak membutuhkan kesulitan yang berarti. Apalagi bagi orang yang tinggal dan berdinamika di Yogyakarta. Alasan pertama, penyebab kemacetan adalah ratio yang tidak seimbang antara jumlah kendaraan yang masuk dan kendaraan yang keluar. Banyaknya jumlah orang yang memutuskan untuk datang di Yogya ternyata berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kendaraan yang masuk ke Yogya setiap tahunnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak diimbangi dengan jumlah kendaraan yang keluar dari daerah Yogyakarta. 

Menurut data Badan Pusat Statistik DIY tahun 2012 jumlah kendaraan (baik itu roda dua maupun roda empat) di wilayah Yogyakarta mencapai 1.724.160 unit. Jumlah ini mengalami peningkatan jika dibandingkan jumlah kendaraan di tahun 2011 yaitu sebesar 1.618.457 unit. Data ini tentu tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang keluar dari wilayah Yogyakarta yang hanya mencapai jumlah 167.385 (data tahun 2012). 

Tingginya jumlah kendaraan bermotor di wilayah Yogyakarta juga disebabkan oleh adanya kemudahan yang ditawarkan oleh Produsen kendaraan bermotor kepada masyarakat. Bayangkan, dengan uang muka lima ratus ribu hingga satu juta rupiah, seseorang dapat membeli sepeda motor baru secara kredit. Alasan kedua dan juga merupakan alasan yang menjadi akar permasalahan bagi kemacetan di daerah Yogyakarta adalah keterbatasan moda transportasi umum yang disediakan oleh Pemerintah daerah. Potensi dan status yang disandang oleh Yogyakarta sebagai kota budaya dan kota pelajar ternyata tidak berimplikasi pada penyediaan sarana transportasi umum yang memadai. Angkutan umum berupa bus yang disediakan ternyata tidak berfungsi optimal. 

Berdasarkan pengalaman penulis hampir sebagian besar bus berada dalam kondisi rusak dan tidak layak jalan serta jauh dari kesan nyaman. Hal ini diperparah dengan terbatasnya rute atau jalur yang dilalui oleh bus tersebut. Bus-bus umum yang ada hanya mengangkut dan menurunkan penumpang di jalan-jalan utama. Padahal angkutan umum tersebut akan efektif jika kemudian bisa melayani trayek atau rute langsung ke kampus-kampus atau universitas dan bahkan instansi pemerintah yang lokasinya berada jauh dari jalan-jalan utama. Hal inilah yang kemudian menjadi faktor rendahnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum jenis bus ini. Di samping bus umum, terdapat pula Trans Yogya. 

Sebagai angkutan umum yang menawarkan ekslusivitas dan kenyamanan, ternyata Trans Yogya juga masih jauh dari harapan. Ukuran bus yang relatif kecil seringkali tidak mampu menampung jumlah penumpang secara maksimal. Akibatnya para penumpang harus berdesak-desakan dan saling berebutan. Berdasarkan survei yang dilakukan penulis, beberapa bus Trans Yogya juga berada dalam kondisi yang rusak dan tidak memberikan kesan nyaman. Kerusakan yang dimaksud seperti Air Conditioning (AC) yang macet, tempat duduk penumpang yang rusak dan sebagainya. Tidak mengherankan jika kemudian masyarakat kemudian lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan kendaraan umum yang telah disediakan oleh Pemerintah Daerah. 

Alasan ketiga adalah penataan dan pengelolaan parkir yang keliru. Pola penataan dan pengelolaan parkir kendaraan yang keliru seringkali pula memicu terjadinya kemacetan lalu lintas. Penggunaan badan jalan sebagai area parkir sudah pasti akan menciptakan kemacetan karena ruang lalu lintas kendaraan menjadi berkurang. Khusus di Yogyakarta hal ini diperparah dengan ukuran beberapa jalan yang relatif sempit. Ada banyak contoh kemacetan yang terjadi di wilayah Yogyakarta. Beberapa contoh kemacetan yang disebabkan oleh penataan parkir yang keliru adalah kemacetan di sepanjang Jalan Selokan Mataram, Jalan Herman Yohanes, bahkan hingga Jalan Malioboro yang notabene merupakan sentra wisata di Yogyakarta. 

Khusus di Jalan Malioboro kemacetan sering terjadi pada musim liburan sekolah dan pada waktu akhir pekan terutama pada malam hari. Selain itu, meningkatnya laju pembangunan di Yogyakarta, menyebabkan banyaknya toko-toko yang kemudian entah mendapatkan SIMB atau tidak, kemudian mendirikan bangunan yang berdekatan dengan ruas-ruas jalan utama yang sebenarnya wilayah tersebut rawan akan kemacetan. Salah satu contohnya adalah Jalan Kaliurang yang saat ini mulai rawan akan kemacetan baik pada jam-jam kerja ataupun pada jam-jam pulang kerja. 

Kemacetan : Upaya Untuk Mengatasinya 
    Kemacetan yang terjadi di wilayah Yogyakarta sudah seharusnya mendapat perhatian dan perlu dicarikan solusi pemecahannya. Bagi kalangan yang berpikir optimis tentu akan melihat solusi guna mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas di atas. Lantas timbul sebuah pertanyaan bagaimana cara untuk mengatasinya?

 Cara pertama dan terutama adalah merevitalisasi sarana transportasi publik yang ada. Pemerintah Daerah sebagai pihak yang berwenang untuk mengambil kebijakan dapat melakukan upaya revitalisasi pada sarana transportasi yang ada. Mulai dari peremajaan armada bus baik itu Trans Yogya maupun bus–bus umum dengan trayek lain hingga penambahan jumlah armada bus. Sejauh ini upaya revitalisasi masih menemui kendala seperti adanya kendala-kendala politis. Sebagai contoh rencana revitalisasi armada bus Trans Yogya yang belum dapat direalisasikan karena masih terjadi perdebatan di antara para pengambil kebijakan. Selain itu, penambahan trayek atau rute baru bus-bus umum yang melewati kampus-kampus atau institusi Pemerintah tertentu, yang lokasinya berada jauh dari jalan-jalan utama. Jika aspek-aspek tersebut telah dapat terpenuhi maka masyarakat akan tertarik untuk menggunakan transportasi umum yang telah disediakan tersebut.

Cara kedua, Pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan universitas-universitas dan institusi-institusi pemerintah yang ada di wilayah Yogyakarta untuk mengeluarkan kebijakan yang mendukung bagi pemaafaatan transportasi umum yang ada secara maksimal. Misalnya Universitas dapat mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan civitas academica menggunakan sarana transportasi umum yang ada. Kebijakan ini tentu saja mempunyai manfaat karena tidak hanya dapat mengurangi kemacetan tetapi juga dapat mengurangi tingkat polusi udara. Kebijakan ini sejatinya telah diaplikasikan oleh beberapa Universitas. Salah satu contohnya adalah Universitas Gajah Mada (UGM). 

Cara ketiga adalah penataan dan pengembalian fungsi jalan sebagaimana mestinya, Mengingat fungsi jalan sebagai faktor esensial yang menentukan kelancaran lalu lintas. Para pengelola tempat-tempat hiburan, perbelanjaan, rumah makan, bahkan penginapan harus mampu menyediakan lahan parkir yang ekslusif dan tidak menggunakan badan jalan. Lahan parkir yang bisa disediakan bisa memakai penyewaan lahan kosong yang lokasinya tidak jauh dari tempat usahanya atau bisa membangun tempat parkir bawah tanah. Cara keempat adalah menciptakan area khusus bagi pejalan kaki. 

Terutama untuk kawasan wisata yang padat pengunjungnya . Sebagai contoh di Kawasan Wisata Malioboro. Selama ini kemacetan di kawasan Malioboro juga disebabkan oleh minimnya area khusus bagi pejalan kaki. Ketiadaan area khusus bagi pejalan kaki menyebabkan para pejalan kaki tersebut menggunakan badan jalan. Dengan penataan yang maksimal bagi para pejalan kaki maka kemacetan dapat diminimalisasi. Bila perlu kawasan Malioboro ditetapkan sebagai kawasan bebas kendaraan bermotor (Kawasan Pendestrian) sehingga dengan demikian kenyamanan wisatawan dan pengunjung di Malioboro dapat tercipta. 

Potret kemacetan di Yogya dewasa ini memang telah masuk pada fase yang mengkhawatirkan akan tetapi bukan berarti tidak ada solusi yang dapat diketengahkan guna mengatasi permasalahan tersebut. Solusi-solusi yang diketengahkan oleh penulis rasanya tidak akan membawa dampak yang signifikan jika tidak dibarengi dengan keseriusan dari pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan dan juga kesadaran dari seluruh masyarakat Yogyakarta sendiri untuk mengatasi kemacetan yang ada. Jika hal ini dapat tercapai maka Yogyakarta, Kota Budaya dan kota pelajar yang tercinta ini akan terbebas dari ancaman kemacetan dan tetap nyaman bagi para penghuninya. 

 Daftar Pustaka 
“Arus Mudik Keluar-Masuk DIY Terbanyak dari Pintu Timur”, dalam http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/info-     mudik/13/08/05/mr28u2-arus-mudik-keluarmasuk-diy-terbanyak-dari-pintu-timur, diakses pada 12 September 2013 
“Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Angka Tahun 2012, dalam http://yogyakarta.bps.go.id/ebook/Daerah%20Istimewa%20Yogyakarta%20Dalam%20Angka%202012/files/assets/basic-html/page440.html, diakses pada 12 September 2013
 “Data Kependudukan Daerah Istimewa Yogyakarta”, dalam www.pip2bdiy.org/sigperkim/penduduk.php, diakses pada 12 September 2013.