Asia Tengah : Kepentingan Rusia dan Potensi Konflik Pasca Timur Tengah
Unknown
20.14
0
A.
PENDAHULUAN
Pada
dasarnya kawasan Asia Tengah tidaklah terkenal dan semashyur kawasan Timur
Tengah. Banyak pihak tentu lebih mengenal kawasan Timur Tengah yang notabene
merupakan kawasan yang kaya dengan sumber daya minyak ketimbang kawasan lainnya
yaitu Asia Tengah.
Kawasan
Asia Tengah secara umum memiliki luas wilayah sebesar 9.029.000 kilometer
persegi[1].
Luas wilayah itu adalah 21 % dari total luas Benua Asia secara keseluruhan. Di
kawasan Asia Tengah terletak lima negara yaitu : Kazakhztan, Kirgiztan,
Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan. Kelima negara tersebut merupakan
bagian dari bekas negara Uni Soviet[2].
Selain itu, di kawasan ini juga terletak Laut Kaspia.
Satu
hal yang menarik dewasa ini adalah kawasan ini kemudian menjadi rebutan dari
negara-negara besar seperti Rusia, Cina, dan juga Amerika Serikat. ketiga
negara ini berlomba-lomba untuk mendapatkan pengaruh besar di kawasan tersebut.
Lantas timbul satu pertanyaan kira-kira apa hal yang menjadi daya tarik kawasan
Asia Tengah, sehingga membuat kawasan ini menjadi rebutan bagi negara-negara
besar di dunia?
Faktor yang
pertama adalah faktor Sumber daya alam.
Menurut data yang dirilis oleh Pemerintah Amerika Serikat kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam terutama minyak dan gas. Bahkan kekayaan alam yang dimilikinya disinyalir lebih besar jika dibandingkan dengan apa yang ada di kawasan Timur Tengah. Sebagai contoh : Kazakhstan pada tahun 2002 mempunyai produksi minyak mencapai 900.000 barel per hari. Produksinya ini akan meningkat menjadi 5 juta barel per hari pada tahun 2015 sehingga melebihi produksi Iran atau Kuwait.
Sementara Turkmenistan merupakan salah satu negara yang mempunyai sumber gas alam terbesar di dunia, yang mencapai 101 trilyun kaki kubik dan produksi minyaknya mencapai 160.000 barel per hari. Di Tajikistan dan Kyrgistan terdapat sumber alam yang dapat dijadikan pembangkit listrik tenaga air yang cukup potensial untuk dapat memenuhi kebutuhan energi listrik di Asia Tengah, Afghanistan dan Asia Selatan[3].
Adapun Laut Kaspia yang secara geografis berbatasan dengan Rusia (Dagestan, Kalmykia,Oblast Astrakhan), Azerbaijan, Iran (provinsi Guilan, Mazandaran dan Golestan),Turkmenistan, dan Kazakhstan, dengan padang rumput yang luas Asia Tengah di utara dan timur[4],diperkirakan menyimpan kurang lebih kandungan minyak sebesar 150 milyar barel.
Kandungan minyak ini kemudian dinilai sangat potensial dan bahkan menguntungkan bila dibandingkan dengan kandungan minyak yang ada di AS yang hanya sebesar 22 milyar barel dan Laut Artik sebesar 17 milyar barel. Dengan kandungan minyak sebesar itu, Laut Kaspia dapat menjadi pemasok minyak 15 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kawasan Timur Tengah. Secara umum, cadangan minyak di seluruh kawasan Asia Tengah mencapai 23 milyar ton[5].
Menurut data yang dirilis oleh Pemerintah Amerika Serikat kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam terutama minyak dan gas. Bahkan kekayaan alam yang dimilikinya disinyalir lebih besar jika dibandingkan dengan apa yang ada di kawasan Timur Tengah. Sebagai contoh : Kazakhstan pada tahun 2002 mempunyai produksi minyak mencapai 900.000 barel per hari. Produksinya ini akan meningkat menjadi 5 juta barel per hari pada tahun 2015 sehingga melebihi produksi Iran atau Kuwait.
Sementara Turkmenistan merupakan salah satu negara yang mempunyai sumber gas alam terbesar di dunia, yang mencapai 101 trilyun kaki kubik dan produksi minyaknya mencapai 160.000 barel per hari. Di Tajikistan dan Kyrgistan terdapat sumber alam yang dapat dijadikan pembangkit listrik tenaga air yang cukup potensial untuk dapat memenuhi kebutuhan energi listrik di Asia Tengah, Afghanistan dan Asia Selatan[3].
Adapun Laut Kaspia yang secara geografis berbatasan dengan Rusia (Dagestan, Kalmykia,Oblast Astrakhan), Azerbaijan, Iran (provinsi Guilan, Mazandaran dan Golestan),Turkmenistan, dan Kazakhstan, dengan padang rumput yang luas Asia Tengah di utara dan timur[4],diperkirakan menyimpan kurang lebih kandungan minyak sebesar 150 milyar barel.
Kandungan minyak ini kemudian dinilai sangat potensial dan bahkan menguntungkan bila dibandingkan dengan kandungan minyak yang ada di AS yang hanya sebesar 22 milyar barel dan Laut Artik sebesar 17 milyar barel. Dengan kandungan minyak sebesar itu, Laut Kaspia dapat menjadi pemasok minyak 15 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kawasan Timur Tengah. Secara umum, cadangan minyak di seluruh kawasan Asia Tengah mencapai 23 milyar ton[5].
Faktor kedua adalah
karena letak kawasan Asia Tengah yang sangat strategis baik bagi Rusia, Cina,
maupun bagi Amerika Serikat. Bagi Cina kawasan Asia Tengah merupakan jalur
perdagangan yang menghubungkannya dengan Rusia. Seperti yang telah diketahui
Rusia merupakan mitra strategis bagi Cina. Apalagi sejak Cina mendapat embargo
militer dari Amerika Serikat akibat terjadinya peristiwa Tiananmen tahun 1989.
Tercatat Rusia merupakan pengekspor utama peralatan persenjataan bagi Cina.
Total perdagangan di bidang militer ini pasca dibentuknya Shanghai Cooperation Organization (SCO) di tahun 2001 saja mencapai US$ 5-6 Milyar, dan ini terus mengalami peningkatan,mengingat dengan kebutuhan Cina sendiri untuk melakukan modernisasi persenjataan yang dimilikinya. Di sisi lain bagi Amerika Serikat, kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang tidak kalah strategisnya. Selain faktor Sumber daya alam, kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat mendukung bagi terciptanya kestabilan keamanan wilayah Afganistan dan mencegah munculnya kembali kegiatan- kegiatan terorisme[6].
Terjaminnya keamanan di Asia Tengah dipercaya akan berbanding lurus dengan terjaminnya keamanan di wilayah Afganistan. Selain itu, bagi Amerika Serikat dikuasainya kawasan Asia Tengah merupakan potensi yang tepat untuk menghambat aliansi yang tengah dibuat oleh Rusia dan Cina. Sementara bagi Rusia, kawasan Asia Tengah bukan hanya menjadi kawasan yang sangat strategis tetapi juga menjadi kawasan penentu bagi penciptaan keberhasilan pembangunan ekonomi dalam negerinya. Secara geografis, Rusia merupakan negara yang berbatasan langsung dengan kawasan Asia Tengah.
Sebagai negara dengan luas wilayah terbesar di dunia ( 17.075.400 kilometer persegi)[7], Rusia mempunyai banyak kepentingan yang akan diwujudkannya di kawasan tersebut. Apalagi secara historis, Rusia dan negara-negara di kawasan Asia Tengah pernah berada dalam satu ikatan negara besar yaitu Uni Soviet. Hal-hal inilah yang kemudian membuat kaitan antara kepentingan Rusia di Asia Tengah dan potensi nilai tawar Asia Tengah sendiri menjadi menarik untuk dibahas secara lebih mendalam. Tentu saja dengan tidak mengabaikan kepentingan-kepentingan negara besar lainnya seperti Cina Dan Amerika Serikat.
Total perdagangan di bidang militer ini pasca dibentuknya Shanghai Cooperation Organization (SCO) di tahun 2001 saja mencapai US$ 5-6 Milyar, dan ini terus mengalami peningkatan,mengingat dengan kebutuhan Cina sendiri untuk melakukan modernisasi persenjataan yang dimilikinya. Di sisi lain bagi Amerika Serikat, kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang tidak kalah strategisnya. Selain faktor Sumber daya alam, kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat mendukung bagi terciptanya kestabilan keamanan wilayah Afganistan dan mencegah munculnya kembali kegiatan- kegiatan terorisme[6].
Terjaminnya keamanan di Asia Tengah dipercaya akan berbanding lurus dengan terjaminnya keamanan di wilayah Afganistan. Selain itu, bagi Amerika Serikat dikuasainya kawasan Asia Tengah merupakan potensi yang tepat untuk menghambat aliansi yang tengah dibuat oleh Rusia dan Cina. Sementara bagi Rusia, kawasan Asia Tengah bukan hanya menjadi kawasan yang sangat strategis tetapi juga menjadi kawasan penentu bagi penciptaan keberhasilan pembangunan ekonomi dalam negerinya. Secara geografis, Rusia merupakan negara yang berbatasan langsung dengan kawasan Asia Tengah.
![]() |
| Konflik politik |
Sebagai negara dengan luas wilayah terbesar di dunia ( 17.075.400 kilometer persegi)[7], Rusia mempunyai banyak kepentingan yang akan diwujudkannya di kawasan tersebut. Apalagi secara historis, Rusia dan negara-negara di kawasan Asia Tengah pernah berada dalam satu ikatan negara besar yaitu Uni Soviet. Hal-hal inilah yang kemudian membuat kaitan antara kepentingan Rusia di Asia Tengah dan potensi nilai tawar Asia Tengah sendiri menjadi menarik untuk dibahas secara lebih mendalam. Tentu saja dengan tidak mengabaikan kepentingan-kepentingan negara besar lainnya seperti Cina Dan Amerika Serikat.
B.
KEPENTINGAN
RUSIA DI KAWASAN ASIA TENGAH
Peralihan
kepemimpinan di Rusia dari Presiden Boris Yeltsin ke Presiden Vladimir
Vladimrovich Putin (7 Mei tahun 2000) kemudian membuat orientasi kebijakan
dalam maupun luar negeri Rusia mengalami perubahan yang sangat signifikan.
Krisis ekonomi yang melanda Rusia pada kurun waktu 1998 yang membuat Rusia akhirnya terjebak dalam posisi tidak dapat
membayar hutang sebesar 360 juta dollar US ke London Club dan 70 Milyar Dollar
US yang merupakan hutang warisan dari Uni Soviet, pada dasarnya merupakan akibat
dari pelaksanaan orientasi politik luar negeri yang tidak konsisten[8]
dan penafsiran yang keliru dari konsep pemikiran politik baru (New Political Thinking (NPT) ) yang
sempat digagas oleh Michail Gorbachev lewat Glanost
dan Perestroika.
Vladimir Putin yang melihat situasi ini secara jeli kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk melakukan transformasi kebijakan politik dalam dan luar negeri Rusia yang bersifat strategis. Konsep politik baru yang dipandang sebagai restorasi patriotisme dan nilai-nilai tradisi dalam visi dan pragmatisme dalam aksi[9] akhirnya menjadi alat penting bagi Presiden Vladimir Putin untuk mewujudkan misinya guna mengembalikan kejayaan Rusia yang kian terpuruk sejak pecahnya Uni soviet tahun 1991. Satu hal yang kemudian menjadi perhatian adalah pola penerapan kebijakan politik Presiden Vladimir Putin.
Di era Putin, kebijakan politik Rusia terutama kebijakan politik luar negeri tidak lagi bersifat pro Barat dan juga tidak sepenuhnya bersifat mandiri (independen). Bagi Presiden Putin, Pragmatisme politik adalah cara yang tepat guna membantu Rusia untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Dalam pidatonya Putin mengatakan :”The Foundation of this policy is pragmatism,economic effectiveness,and priority of national task”[10]. Pernyataan ini sejatinya mengandung makna bahwa kebijakan politik Rusia baik itu yang bersifat dalam negeri maupun luar negeri pada dasarnya disesuaikan dengan kepentingan nasional apa yang ingin segera dicapai. Keterbukaan ekonomi tidak serta merta harus diikuti oleh keterbukaan politik begitupun sebaliknya. Alur pemikiran ini pada dasarnya secara kontekstual berbenturan dengan tradisi konsep ideal teori neoliberal, akan tetapi harus diakui konsep pemikiran inilah yang akhirnya membuat perekonomian Rusia yang sebelumnya anjlok hingga 40 % di tahun 1998[11] menjadi kembali mengalami peningkatan.
Peningkatan yang dimaksud dapat dilihat dari pencapaian Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia yang naik hingga mencapai 7 % di tahun 2007[12]. Bahkan, Rusia menempati urutan ketiga dalam daftar negara yang memiliki cadangan devisa terbesar dengan sekitar 400 miliar dollar AS (setelah Jepang dan RRC), di samping itu Rusia juga memiliki dan stabilisasi sebesar lebih dari 80 miliar dollar AS[13].
Vladimir Putin yang melihat situasi ini secara jeli kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk melakukan transformasi kebijakan politik dalam dan luar negeri Rusia yang bersifat strategis. Konsep politik baru yang dipandang sebagai restorasi patriotisme dan nilai-nilai tradisi dalam visi dan pragmatisme dalam aksi[9] akhirnya menjadi alat penting bagi Presiden Vladimir Putin untuk mewujudkan misinya guna mengembalikan kejayaan Rusia yang kian terpuruk sejak pecahnya Uni soviet tahun 1991. Satu hal yang kemudian menjadi perhatian adalah pola penerapan kebijakan politik Presiden Vladimir Putin.
Di era Putin, kebijakan politik Rusia terutama kebijakan politik luar negeri tidak lagi bersifat pro Barat dan juga tidak sepenuhnya bersifat mandiri (independen). Bagi Presiden Putin, Pragmatisme politik adalah cara yang tepat guna membantu Rusia untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Dalam pidatonya Putin mengatakan :”The Foundation of this policy is pragmatism,economic effectiveness,and priority of national task”[10]. Pernyataan ini sejatinya mengandung makna bahwa kebijakan politik Rusia baik itu yang bersifat dalam negeri maupun luar negeri pada dasarnya disesuaikan dengan kepentingan nasional apa yang ingin segera dicapai. Keterbukaan ekonomi tidak serta merta harus diikuti oleh keterbukaan politik begitupun sebaliknya. Alur pemikiran ini pada dasarnya secara kontekstual berbenturan dengan tradisi konsep ideal teori neoliberal, akan tetapi harus diakui konsep pemikiran inilah yang akhirnya membuat perekonomian Rusia yang sebelumnya anjlok hingga 40 % di tahun 1998[11] menjadi kembali mengalami peningkatan.
Peningkatan yang dimaksud dapat dilihat dari pencapaian Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia yang naik hingga mencapai 7 % di tahun 2007[12]. Bahkan, Rusia menempati urutan ketiga dalam daftar negara yang memiliki cadangan devisa terbesar dengan sekitar 400 miliar dollar AS (setelah Jepang dan RRC), di samping itu Rusia juga memiliki dan stabilisasi sebesar lebih dari 80 miliar dollar AS[13].
Berbicara
mengenai kepentingan politik luar negeri Rusia yang pragmatis tentu sangat erat
kaitannya dengan keberadaan kawasan Asia Tengah. Sebagai negara yang secara
geografis berbatasan langsung dengan kawasan tersebut ditambah dengan faktor
kedekatan historis ( pernah tergabung menjadi satu dalam negara Uni Soviet),
Rusia pada akhirnya menjadi negara yang paling berkepentingan di kawasan Asia
Tengah tersebut. Lewat pendekatan Near
Abroad (Blizhnee Zarubezh’e), yang
mana tidak hanya diperuntukkan bagi negara-negara bekas Uni Soviet yang
tergabung dalam CIS (Commonwealth of
Independent States) dan kerangka
SCO(Shanghai Cooperation Organization
) Rusia kemudian coba menjalin kerjasama yang baik dengan negara-negara di
kawasan Asia Tengah.
Adapun
kepentingan yang ingin dicapai oleh Rusia di kawasan Asia Tengah yaitu :
a. Kelancaran dalam Suplai Minyak dan komoditas perdagangan lainnya (peralatan militer) dari Rusia ke negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah. Misalnya Cina, Iran, dan India. Selama ini produk minyak Rusia memasuki pasaran internasional melalui tiga jalur yaitu : Eropa Barat melalui Laut Baltik dan Laut Hitam untuk memasuki pasar Eropa, jalur laut utara untuk sebagian Eropa dan Amerika Utara, dan jalur Timur Jauh menuju pasar Asia Pasifik. Stabilitas keamanan di kawasan Asia Tengah tentu akan membawa pengaruh pada kelancaran suplai minyak dan komoditas perdagangan Rusia. Terutama mengenai lalu lintas perdagangan antara Rusia dan Cina. Mengingat kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang menghubungkan antara Rusia dan Cina Jika stabilitas keamanan Asia Tengah terganggu maka dapat dipastikan Rusia akan menelan kerugian hingga US $ 40 Millyar. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka Rusia bersama Cina dan keenam negara di kawasan Asia Tengah melakukan kerjasama secara formal dalam wadah SCO (Shanghai Cooperation Organization). Selain itu, Rusia juga melakukan kerjasama dengan Kazakhtan dalam upaya eksplorasi Laut Kaspia. Kerjasama di bidang eksplorasi ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari kerjasama sebelumnya di bidang penjagaan perbatasan sejauh 7.500 km (terpanjang di dunia).
a. Kelancaran dalam Suplai Minyak dan komoditas perdagangan lainnya (peralatan militer) dari Rusia ke negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah. Misalnya Cina, Iran, dan India. Selama ini produk minyak Rusia memasuki pasaran internasional melalui tiga jalur yaitu : Eropa Barat melalui Laut Baltik dan Laut Hitam untuk memasuki pasar Eropa, jalur laut utara untuk sebagian Eropa dan Amerika Utara, dan jalur Timur Jauh menuju pasar Asia Pasifik. Stabilitas keamanan di kawasan Asia Tengah tentu akan membawa pengaruh pada kelancaran suplai minyak dan komoditas perdagangan Rusia. Terutama mengenai lalu lintas perdagangan antara Rusia dan Cina. Mengingat kawasan Asia Tengah merupakan kawasan yang menghubungkan antara Rusia dan Cina Jika stabilitas keamanan Asia Tengah terganggu maka dapat dipastikan Rusia akan menelan kerugian hingga US $ 40 Millyar. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka Rusia bersama Cina dan keenam negara di kawasan Asia Tengah melakukan kerjasama secara formal dalam wadah SCO (Shanghai Cooperation Organization). Selain itu, Rusia juga melakukan kerjasama dengan Kazakhtan dalam upaya eksplorasi Laut Kaspia. Kerjasama di bidang eksplorasi ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari kerjasama sebelumnya di bidang penjagaan perbatasan sejauh 7.500 km (terpanjang di dunia).
b.
Menjaga dan melindungi eksistensi etnis Rusia di kawasan Asia Tengah. Runtuhnya
Uni Soviet, kurang lebih berdampak pula pada persebaran etnis,secara khusus etnis
Rusia. Rusia sebagai negara pewaris Uni soviet tentu memiliki kepentingan untuk
melindungi keberadaan etnis Rusia yang tersebar di negara-negara bekas jajahan
Uni Soviet. Dan Asia Tengah persebaran etnis Rusia adalah yang terbesar. Di
Kazakhstan presentase persebaran etnis Rusia mencapai 37 %, di Kyrgystan
21,5%,Turkmenistan 9,8%,Tajikistan 3,5%, dan di Uzbekistan 8,3%[14]. Jumlah
etnis Rusia yang sangat besar yang tersebar di negara-negara bekas jajahan Uni
Soviet ternyata berbanding lurus dengan kuatnya pengaruh mereka bagi
pelaksanaan pemerintahan di negara-negara tersebut. Kuatnya pengaruh inilah
yang kemudian ditangkap sebagai peluang oleh Pemerintah Rusia sebagai cara
untuk mengontrol dan memberi pengaruh bagi mekanisme pengambilan kebijakan di
negara-negara tersebut.
c.
Kepentingan akan penguasaan Sumber Daya Alam. Asia Tengah merupakan kawasan
yang sangat kaya akan sumber daya alam. Cadangan minyak di kawasan ini
diprediksi berjumlah 23 Milyar ton[15].
Dengan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah itu tentu saja menjadi
daya tarik tersendiri bagi Rusia. Penguasaan yang tepat terhadap kawasan Asia
tengah secara sistematis akan menopang perkembangan Rusia sebagai negara
pengekspor minyak dan gas terbesar di dunia. Akan tetapi, fokus perhatian Rusia
terhadap potensi sumber daya alam di kawasan Asia Tengah tidaklah sedetail
Amerika Serikat.
Faktor kekayaan alam dalam negerinya yang notabene mampu menunjang perannya sebagai supplier minyak dan gas bagi kawasan Eropa dan Asia adalah penyebab utama yang membuat Rusia tidak terlihat begitu antusias mengenai perebutan hak atas sumber daya alam di kawasan Asia Tengah. Alasan ini diperkuat dengan adanya data bahwasanya Rusia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan gas terbesar di dunia yaitu sebesar 1.680 TCF (tahun 2001) atau dua kali lebih besar dibandingkan cadangan gas Iran, terbesar ke dua untuk cadangan batubara setelah AS dengan jumlah cadangan sebesar 173 miliar ton, dan cadangan terbukti minyak sebesar 60 miliar barel (terbesar ke delapan di dunia)[16].
Cadangan minyak Rusia sebagian besar terdapat di Siberia bagian Barat diantara pegunungan Ural dan dataran Siberia Tengah yang dikenal dengan Russian Core yang menjadikan Uni Soviet saat itu sebagai penghasil minyak utama dengan produksi mencapai 12,5 juta bph yang sebagian besar berasal dari wilayah Rusia. Tahun 2006 volume ekspor gas alam Rusia mencapai 141 miliar meter kubik per hari yang membuat pendapatan negara dari sektor gas alam sekitar 674 miliar dollar AS, jauh lebih besar dari pendapatan dari sektor minyak yang hanya sekitar 142 miliar dollar AS dengan volume ekspor 7 juta barrel per hari[17].
Faktor kekayaan alam dalam negerinya yang notabene mampu menunjang perannya sebagai supplier minyak dan gas bagi kawasan Eropa dan Asia adalah penyebab utama yang membuat Rusia tidak terlihat begitu antusias mengenai perebutan hak atas sumber daya alam di kawasan Asia Tengah. Alasan ini diperkuat dengan adanya data bahwasanya Rusia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan gas terbesar di dunia yaitu sebesar 1.680 TCF (tahun 2001) atau dua kali lebih besar dibandingkan cadangan gas Iran, terbesar ke dua untuk cadangan batubara setelah AS dengan jumlah cadangan sebesar 173 miliar ton, dan cadangan terbukti minyak sebesar 60 miliar barel (terbesar ke delapan di dunia)[16].
Cadangan minyak Rusia sebagian besar terdapat di Siberia bagian Barat diantara pegunungan Ural dan dataran Siberia Tengah yang dikenal dengan Russian Core yang menjadikan Uni Soviet saat itu sebagai penghasil minyak utama dengan produksi mencapai 12,5 juta bph yang sebagian besar berasal dari wilayah Rusia. Tahun 2006 volume ekspor gas alam Rusia mencapai 141 miliar meter kubik per hari yang membuat pendapatan negara dari sektor gas alam sekitar 674 miliar dollar AS, jauh lebih besar dari pendapatan dari sektor minyak yang hanya sekitar 142 miliar dollar AS dengan volume ekspor 7 juta barrel per hari[17].
C. ASIA TENGAH :
POTENSI KONFLIK PASCA TIMUR TENGAH
Pasca
gelombang revolusi besar-besaran (Februari 2011) di kawasan Timur Tengah yang
berhasil menggulingkan beberapa rezim pemerintahan, mulai dari rezim Presiden
Ben Ali di Tunisia, Husni Mubarak di Mesir, Moammar Khadafi di Libya, Ali
Abdullah Saleh di Yaman, hingga Presiden Bashar Al Ashad di Suriah ( yang masih
berlangsung sampai sekarang), akhirnya menempatkan kawasan Timur Tengah pada
ketidakstabilan politik. Transformasi kekuasaan yang diharapkan dapat membawa
perbaikan pada sistem politik dalam negeri ternyata malah melahirkan konflik
baru yang ironisnya justru melibatkan kelompok-kelompok yang sebelumnya
mempunyai misi yang satu dan telah sama- sama berjuang mencetuskan gerakan
revolusi.
Situasi
dan kondisi seperti ini tentu tidak berdampak positif bagi eksistensi Timur
Tengah di mata dunia internasional. Padahal secara ekonomi Timur Tengah
merupakan kawasan yang memegang peranan penting. Sebagai kawasan penghasil
minyak dunia, Timur Tengah merupakan supplier
bagi banyak negara dan kawasan di dunia. Adapun kawasan Eropa Barat tergantung
3/5% atau sebanyak 20% dari kawasan Timur Tengah, Sementara Amerika Serikat
tergantung sebesar 1/7 bagian dan Jepang sebanyak 2/3 bagian dari seluruh
kebutuhan minyaknya[18].
Ketidakstabilan politik yang ada di kawasan Timur Tengah,otomatis akan membuat negara-negara yang selama ini bergantung terhadap suplai minyak dari Timur Tengah berupaya untuk mencari alternatif baru guna menjamin ketersediaan minyak dalam negerinya. Dan kawasan yang dimaksud kemudian merujuk kepada Asia Tengah.
Kekayaan sumber daya alam kawasan Asia Tengah sejatinya
telah dilihat oleh Pemerintah Amerika Serikat sejak akhir dekade 1990-an.
Menurut Pemerintah AS kawasan Asia Tengah khususnya Laut Kaspia diperkirakan
mempunyai kandungan gas alam sebesar 236-337 trilyun kaki kubik (cubic feet). Kandungan gas alam di Laut
Kaspia ini menjadi daya daya tarik yang potensial mengingat kandungan gas alam
yang terdapat di sana lebih besar jika dibandingkan dengan kandungan gas alam
yang dimiliki AS yang berjumlah 300 trilyun cubic
feet[19].
Kekayaan sumber daya alam yang
dimiliki oleh kawasan Asia Tengah akhirnya membuat banyak negara terlibat dalam
persaingan. Pada dasarnya ada tiga negara besar yang kemudian terlibat dalam
perebutan pengaruh di kawasan Asia Tengah ini. Tiga negara yang dimaksud adalah
Rusia, Cina, dan Amerika Serikat. Kedekatan hubungan antara Rusia dan Cina
seperti yang tercermin dalam Kemitraan strategis kedua negara yang termaktub
dalam Shanghai Cooperation Organization
(SCO) tentu menjadi permasalahan yang serius bagi Amerika Serikat. Perjanjian
kerjasama antara Rusia dan Cina yang ditandatangani pada 18 Juli tahun 2001
itupun secara halus menyebut Amerika Serikat sebagai penghalang terwujudnya stabilitas
di kawasan Asia Tengah. Dalam point pertama pokok kerjasama disebutkan : The 2001 Russia- China treaty covers five
important areas of cooperation : 1) Joint actions to offset a perceived U.S.
Hegemoinsm[20].
Keterlibatan Amerika serikat dalam persaingan dalam upaya perebutan
pengaruh di Asia Tengah yang ditandai dengan upaya ekspansi NATO ke kawasan
tersebut hingga ke kawasan Eropa Timur ditambah dengan dibangunnya pangkalan
militer Amerika Serikat di Uzbekistan dan Kazhakstan tentu saja akan memanaskan
situasi di kawasan tersebut. Tentu saja mengingat kehadiran Amerika Serikat di
kawasan Asia Tengah akan bersinggungan langsung dengan kepentingan yang ingin
dicapai oleh Rusia dan Cina. Jika kemudian Amerika Serikat berani melibatkan
diri seperti yang pernah dilakukannya dalam revolusi di Timur Tengah berarti Amerika
Serikat akan berhadapan dengan Rusia yang dibantu oleh Cina.
Konflik yang bersifat frontal seperti yang terjadi di masa perang Dunia I dan II memang sangat kecil kemungkinannya untuk kembali terjadi, akan tetapi konflik secara tidak langsung yaitu dengan menjadikan negara-negara yang ada di kawasan Asia Tengah sebagai aktor yang terlibat langsung dalam konflik itu adalah kemungkinan yang besar yang dapat terjadi. Bukanlah sesuatu yang mustahil jika kemudian kawasan Asia Tengah akan bernasib sama dengan Timur Tengah, atau bahkan lebih parah dari itu, mengingat kompleksitas dan keterlibatan pihak-pihak dalam perebutan pengaruh di kawasan tersebut.
Konflik yang bersifat frontal seperti yang terjadi di masa perang Dunia I dan II memang sangat kecil kemungkinannya untuk kembali terjadi, akan tetapi konflik secara tidak langsung yaitu dengan menjadikan negara-negara yang ada di kawasan Asia Tengah sebagai aktor yang terlibat langsung dalam konflik itu adalah kemungkinan yang besar yang dapat terjadi. Bukanlah sesuatu yang mustahil jika kemudian kawasan Asia Tengah akan bernasib sama dengan Timur Tengah, atau bahkan lebih parah dari itu, mengingat kompleksitas dan keterlibatan pihak-pihak dalam perebutan pengaruh di kawasan tersebut.
D. KESIMPULAN
Kawasan
Asia Tengah merupakan kawasan yang sangat akan sumber daya alam. Selain itu
letaknya yang sangat strategis yang menjadi salah satu jalur perdagangan antara
Eropa dan Asia akhirnya membuat kawasan Asia Tengah ini menjadi perhatian dan
bahkan menjadi rebutan bagi beberapa negara besar di dunia. Negara-negara besar
yang terlibat dalam perebutan wilayah itu yaitu Rusia, Cina ,dan Amerika
Serikat. Dari ketiga negara tersebut Rusialah yang kemudian mempunyai
kepentingan yang paling besar. Adapun kepentingan Rusia adalah: menjaga kelancaran
dalam Suplai Minyak dan komoditas perdagangan lainnya (peralatan militer) dari
Rusia ke negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah, Menjaga dan melindungi
eksistensi etnis Rusia di kawasan Asia Tengah, dan Kepentingan akan penguasaan
Sumber Daya Alam.
Akan
tetapi, pencapaian kepentingan yang ingin dicapai oleh Rusia menghadapi
persoalan mengingat Amerika Serikat juga mempunyai kepentingan yang besar di
kawasan tersebut. Terutama soal penguasaan akan sumber daya alam yang ada.
Benturan kepentingan antara Rusia dan Amerika Serikat inilah yang kemudian
dapat memicu timbulnya konflik di kawasan Asia Tengah. Konflik yang ada
tersebut nantinya bisa sama seperti yang terjadi di Timur Tengah atau bahkan bisa
lebih buruk dari yang pernah terjadi di Timur Tengah, mengingat kompleksitas
dan kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
Akhirnya,
semoga kepentingan yang ingin dicapai oleh masing-masing negara di kawasan Asia
Tengah tidak lantas membuat prinsip-prinsip perdamaian yang bersifat universal
menjadi ditinggalkan dan membuat salah satu pihak menjadi dirugikan. СПАСИБО И УДАЧИ.
[1] “Asia Tengah, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Asiatengah, diakses pada 22
November 2011.
[2] “Rusia”,
dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia, diakses pada 22
November 2011.
[3] Richard
Sokolsky dan Tanya Charlek-Paley, NATO Caspian Security: A Mission to
Far?, Santa Monica:
rani, 1999, hal. 69-70 (diakses pada 12 Maret 2008); dari
www.aksesdeplu.com.
[4] “Laut Kaspia”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/LautKaspia,
diakses pada 22 November 2011.
[5] “The Security
Situation in Central Asia”. International Strategic Studies. No. 1. 2001
[6] Charles
Fairbanks,”Bases Of Debate : America in Central Asia”, The National Interest,
No.68,2002, hal.45.
[7] “Rusia”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia, diakses pada 22
November 2011.
[8]
Periode 1993-1995 kebijakan politik luar negeri Rusia cenderung mengakomodasi
kepentingan negara-negara Barat sedangkan periode tahun 1995-1998 kebijakan
luar negeri yang diterapkan cenderung mengarah pada independensi dan
nasionalisme Rusia.
[9] “Annual Address to
The Federal Assembly of The Russian Federation, Moscow,Kremlin, July 8,2000” http://www.kremlin.ru, diakses pada 24
Oktober 2006.
[10] Lihat pidato
pelantikan Presiden Vladimir Putin di depan Dewan Parlemen tanggal 7 Mei 2000
[11] Simon
Saragih, Bangkitnya Rusia; Peran Putin dan Eks KGB (Jakarta: Kompas,
2008) hal.3
[12] Ibid, hal 3.
[13] “Siapa Pengganti Putin”, dalam http://kompas.com/kompascetak/0702/02/In/3285159.htm,
diakses pada 20 Maret 2010
[14] “The Europe World
Yearbook”, Volume I dan II, 1994-1995.
[15] “The Security
Situation in Central Asia”. International Strategic Studies. No. 1. 2001
[16] “Perkembangan
Industri Migas di Rusia”, dalam
http://www.esdm.go.id/beritagas.php?news_id=340,
diakses pada 20 Februari 2008
[17] “Putin Sukses secara Ekonomi” ,dalam
http://kompas.com/kompas-cetak/0709/28/In/3870742.htm, diakses pada 20 Februari 2008.
[18] Lina
Alexandra dan Bantarto Bandoro,” Ketidakstabilan Permanen di Timur Tengah”,
Analisis
CSIS Vol.
36, No. 1 Maret 2007, hal 63.
[19] Nurani
Chandawati, “ Krisis Energi dan Keamanan Pasokan Energi”, Analisis CSIS Vol.36, No. 1 Maret 2007, hal 82.
[20] Dr. Ariel Cohen, “The
Russia-China Friendship and Cooperation Treaty : A Strategic Shift In
Eurasia?”, dalam http://www.heritage.org/research/RussiaandEurasia/BG1459.cfm, hal. 1, diakses pada
20 November 2011.

Tidak ada komentar